Karya Guru, Karya Tulis

BU RIKA CUMA BELUM TAHU

“Nggak boleh menipu lho, dosa.” Bu Rika menegur seorang wanita yang coba menukar selembar uang dua ribu dengan uang lima puluh ribu dari seorang pedangang kaki lima yang buta.

Kebetulan Bu Rika sangat mengenal wanita yang mau menipu karena mereka bertetangga.

Wanita yang bernama Rina itu kemudian buru-buru pergi dengan wajah memerah karena malu.

Bu Rika hanya menggelengkan kepala. Lalu wanita setengah baya itu melangkahkan langkah menuju pulang. Saat akan berbelok, dia melihat ibu-ibu yang sedang bersantai di teras rumah.

“Dari mana, Bu Rika” tegur salah satu dari mereka ramah.

“Ini, dari toko depan.” Bu Rika menjawab tak kalah ramah. Kemudian dia kembali teringat kejadian di jalan depan tadi. Wanita itu pun segera mendekat pada sekelompok ibu-ibu itu.

“Tadi di depan jalan saya liat si Rina lho. Dia mau menipu pedagang karena pedagangnya nggak bisa liat,” kata Bu Rika berapi-api.

“Wah, masa sih, Bu?”

“Iya, benar. Saya berani sumpah!”

Menit-menit pun berlalu. Bu Rika dan para ibu tadi membicarakan Rina, salah satu tetangga mereka. Hingga keesokan harinya tersebar berita tentang kelakuan wanita itu di seluruh komplek mereka.

Ada yang mulai mengatai, ada yang mulai memusuhi Rina, ada juga yang cuma diam saja tapi menghindari Rina.

***

Bu Rika mendengar pertengkaran tetangganya, Bu Eka dan Pak Dani. Sepasang suami istri itu ribut besar karena Pak Dani ketahuan berselingkuh.

Bu Eka kemudian datang ke rumah Bu Rika untuk mengadu.

“Biar saja saya mau minta cerai setelah ini. Lalu anak-anakku nggak akan aku biarkan kenal dengan bapaknya lagi!” Bu Eka bicara berapi-api di sela isak tangisnya.

“Nggak boleh begitu lho, Bu. Seemosi apa pun kita, misal sampai cerai pun, tetap nggak boleh memutus hubungan ayah dengan anaknya. Dosa.” Bu Rika berusaha menyadarkan Bu Eka akan kata-katanya.

Bu Eka menangis. Lalu memeluk Bu Rika karena merasa sangat terluka dan putus asa.

.

“Bu Eka mau cerai dengan suaminya. Suaminya selingkuh.” Bu Rika memberitahu ibu-ibu komplek keesokan harinya.

“Wah, masa sih? Padahal selama ini rumah tangga mereka kelihatan tenang-tenang saja, ya?”

“Pak Dani udah tua juga ganjen, sebel liatnya.”

“Kayaknya karena Bu Eka nggak suka dandan. Badan melar dan penampilan berantakan kayak gitu suami mana yang nggak bosan.”

“Pelakornya orang mana, sih? Mau bantu jambak, deh!”

Terdengar ucapan kasihan sekaligus hujatan dari berita yang disampaikan Bu Rika. Lalu isu perceraian itu pun menyebar sampai ke seluruh komplek.

***

“Halah, Mama emang cerewet! Sok tau!” Andin berseru kesal di depan rumah.

“Andin! Jaga omongan kamu sama Mama, ya?” Wanita paruh baya yang tak lain adalah mama remaja itu, berseru gemas.

Kebetulan Bu Rika melihat pertengkaran ibu dan anak itu. Maka dia mencoba melerai dengan caranya.

“Andin, nggak boleh ngomong kasar sama mamanya. Dosa lho.” Bu Rika berusaha menenangkan.

“Abisnya Mama gitu, selalu ngelarang aku mau ngapain,” sahut Andin tak terima.

“Iya, tapi tetap aja kamu nggak boleh bicara keras apalagi ngebentak. Ingat, surga kan ada di telapak kaki ibu.” Bu Rika kemudian menjelaskan panjang lebar.

Meski masih terlihat kesal, Andin mulai tenang.

“Andin ngebentak-bentak ibunya lho tadi pagi. Kasar banget omongannya.” Bu Rika mulai topik hari ini. Seperti biasa, dengan para ibu komplek tempat tinggal mereka.

“Andin memang sifatnya gitu, Bu. Keras.”

“Aih, jangan sampai deh punya menantu begitu.”

“Tapi mamanya juga omongannya kasar. Nggak heran Andin besarnya jadi kayak gitu. Karena pola didikan juga salah dari awal.”

“Memang Mbak Uly orangnya emosian, sih.”

“Tapi kan tetap aja anak nggak boleh ngelawan apa kata orang tua.”

Pendapat demi pendapat keluar dari mulut ibu- ibu yang mendengar cerita Bu Rika. Mereka tenggelam membahas nama Andin. Terkadang membahas nama Bu Eka. Kadang juga membahas Rina. Beserta dosa-dosa mereka.

Bu Rika memang dikenal sangat memahami ilmu agama, moral dan pendidikan. Karena itu apa yang diucapkannya seringkali menjadi bahan pembicaraan.

“Eh, tapi kan, Bu Rika, bukannya membahas aib dan kesalahan orang lain itu nggak boleh, ya? Dosa.” Tiba-tiba seorang ibu nyeletuk bertanya.

“Hah? Apa?” Bu Rika keheranan.

“Iya, Bu. Membicarakan aib dan keburukan orang lain kan juga dosa?” Ibu yang lain menggaruk kepala.

“Apa iya?” Bu Rika kampak kaget.

“Benaran lho, Bu.”

Bu Rika terdiam. Wajahnya memucat. Dosa? Membicarakan orang lain memangnya juga dosa? Selama ini dia belajar banyak ilmu tinggi, tapi dia belum tahu bahwa menggunjingkan orang juga berdosa.

Wanita itu kemudian merasa takut dan penuh rasa bersalah. Kalau memang menggunjing orang itu dosa, berarti dosanya sudah banyak sekali. Setiap hari dia membicarakan orang lain, agar banyak orang tahu kesalahan orang. Baik kesalahan kecil atau besar. Baik kesalahan yang merugikan atau cuma sekadar kepantasan.

Bu Rika berlari pulang. Dia merasa sedang memikul dosa besar di kedua bahu. Padahal ilmunya tinggi, tapi ada dosa yang dia belum tahu.

Ghibah….

“Semoga kita dapat bersama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan dan juga mampu mengambil hikmah dari cerita pendek diatas, serta memperbaiki perilaku kita dari hari ke hari Insya Allah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *