NIAT
Niat berfungsi menjadikan suatu perbuatan menjadi wajib dan sunah. Niat juga bisa menjadikan suatu perbuatan dinilai biasa atau berpahala. Dalam Islam, setiap orang yang hendak melakukan ibadah harus mempunyai maksud sebelum melakukannya. Inilah syarat agar perbuatan tersebut dianggap sah atau dinilai sebagai ibadah.
Secara bahasa, arti niat sama dengan al qasdu (bermaksud) dan al-iradah (keinginan). Sedangkan secara istilah niat adalah al qasdu fii qolbihi muqtaronan bifi’lihi “niat ada di dalam hati dan disertai amaliyahnya atau perbuatannya.”
Al-Baidhawi berkata, “Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan suatu tujuan, berupa mendatangkan manfaat atau mendatangkan mudharat dari sisi kondisi atau tempat.”
Fungsi niat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1) Pembeda antara amal ibadah dengan amal adat (kebiasaan).
Misalnya ada beberapa orang yang duduk di masjid, sebagian dari mereka berniat untuk beristirahat dan sebagian lainnya berniat untuk i’tikaf.
2) Pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah lainnya.
Misalnya seseorang mengerjakan shalat empat rakaat. Apakah diniatkan shalat dzuhur atau mungkin shalat sunnah? begitu juga misalnya ada orang yang memerdekakan seorang budak, apakah ia berniat untuk membayar kafarah (tebusan) atau ia niatkan untuk nadzar?
Pentingnya niat ini sesuai dengan hadits

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apayang ia niatkan” (HR Bukhari & Muslim).
تاينلبا لماع لا انما dapat juga diartikan bahwa amal itu menjadi baik, buruk, diterima, ditolak, diganjar atau tidak, itu tergantung dari niatnya. Artinya, baik dan buruknya amal tergantung niat.

Sesungguhnya setiap orang akan memperoleh balasan dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Jika ia berniat baik, maka ia akan memperoleh kebaikan. Dan juga sebaliknya jika ia berniat buruk, maka ia akan memperoleh balasan keburukkan juga.
Berikut ini beberapa hal yang menjadi pembatal dalam niat yaitu:
kasl (enggan, ogah, malas dalam ibadah), futur (lemah, lesu, tidak semangat beribadah), dan malal (jemu,bosan karena amal yang berulang-ulang).
Ada juga beberapa hal yang menjadi penghambat dalam niat yaitu,riya(berharap dilihat orang),sum’ah (ingin viral atau menyiar-nyiarkan), dan ujub (sombong). Seperti yang terdapat dalam Firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 264)
“Niat itu diibaratkan seperti surat, salah tulis alamat akan salah tempat sampainya.”
Semoga Allah Subhanahu wa ta’alaa memberikan hidayah dan kekuatan agar kita senantiasa berniat
ikhlas, hanya mengharap ridha-Nya, dalam setiap amal. Aamiin….