red apple fruit on four pyle books
Karya Guru, Karya Tulis

Kecerdasan Anak yang Sesungguhnya

Mari kita ubah mindset atau cara pandang kita sebagai orangtua agar tidak salah dalam memahami dan mengasah kecerdasaan anak-anak kita. Sering kita mendengar orangtua atau bahkan diri kita sendiri dengan perkataan : “anak dokter kok tidak pintar”, “ anak guru kok ngak pinter”, dll..

Apa Makna Kecerdasan ?

Tentang kecerdasan ini dapat dimaknai dengan sebuah cerita dengan menggambarkan sebuah pohon kelapa di tepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Lalu ada 4 anak yang sedang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu.

Anak ke 1 : Dengan cekatan dia mengambil secarik kertas membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh. Lengkap dengan persamaan matematika dan fisika. Apakah anak ini cerdas? pastinya anak ini cerdas.

Anak ke 2 : Dengan gesit anak kedua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya kepasar, lalu menawarkan ke pedangang kelapa dan dia: “bersorak… Yess… laku Rp 5.000”. Apakah anak yang kedua ini cerdas? Tentunya anak yang kedua pun cerdas.

Anak ke 3 : Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menanyakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh, mau saya kembalikan kepada pemilik pohon kelapa. Apa anak ketiga ini cerdas? Tentunya anak yang cerdas.

Anak ke 4 : Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia melihat ada seorang kakek yang tengah kepanasan dan berteduh dipinggir jalan. “kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya”. Apakah anak yang keempat cerdas? Tentu saja anak ini cerdas juga.

Dengan meyakini bahwa semua cerita di atas menunjukkan anak-anak yang cerdas. Bahwa setiap anak memiliki ”kecerdas-unikan-nya” dan mereka ingin dihargai ”akan kecerdas- unikan-nya” tersebut. Namun yang sering terjadi, di dunia kita, dunia para orang tua dan pendidikan, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yaitu? “ kecerdasan anak pertama, kecerdasan akademik”, lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai mengerjakan UN.


Sedangkan…

“ Kecerdasan Finansial ” (anak no 2),

“ Kecerdasan Karakter “ (anak no 3) dan

“ Kecerdasan Sosial “ (anak no 4). Belum ada ruang yang diberikan negara untuk mengakui kecerdasan mereka.

Anak-anak kita termasuk anak nomor berapa? Saya jadi ingat, dulu sering kami jadikan olok-olokan saat SMA, antara anak IPA dan anak IPS, siapa yang sebenarnya cerdas? Bagaimana kira-kira perasaan buat anak IPS? Terkadang terasa diperlakukan jadi siswa yang terpingirkan. Anak-anak kita semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan “ Keunikan dan Kecerdasan-nya” masing-masing. Hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri kita sendiri.

Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing, dan siapkan mereka dengan 4 kecerdasan (Akademik, Finansial, Karakter, dan Sosial) sebagai pedoman dimana mereka akan mengarungi lautan hidup kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *