ground group growth hands
Karya Guru, Karya Tulis

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Surat Al-Hujarat ayat 13 merupakan salah satu ayat tentang prinsip dasar hubungan manusia dengan manusia atau bisa di katakan manusia merupakan makhluk sosial.

Islam merupakan peletak dasar HAK ASASI MANUSIA ( HAM ) di dunia. Anti rasisme, anti membanggakan suku, keturunan, warna kulit, gender dan golongan. Dalam Islam manusia yang paling mulya adalah orang yang paling Taqwa kepada Allah.

SubhanAllah….

Dari ayat 13 surat A-hujarat dapat kita ambil point-point yang sarat dengan petunjuk-petunjuk yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita dalam bersosialisasi di masyarakat yang mana ujung dari petunjuk tersebut yaitu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

1)  Point pertama “ manusia adalah satu keturunan”

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa manusia seluruhnya merupakan satu keturunan. Berasal dari kakek dan nenek moyang yang sama; yakni Adam dan Hawa.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dari point ini kita diberikan pengetahuan bahwa sejatinyamanusia itu merupakan satu keturunan yaitu dari Adam Dan Hawa. Dengan demikian meraka ( manusia ) semua berasal dari nenek moyang yang sama. Siapun mereka mau dari negeri Arab, Amerika, Eropa ataupun Asia, selama masih terangkum dalam kata manusia maka mereka sesungguhnya setara karena sama-sama keturunan Nabi Adam dan Hawa, apapun warna kulitnya, rambutnya, matanya, apapun sukunya, Arab maupun melayu. Mereka semua sederajat.

Maka tidak heran mengapa Islam bisa di terima di seluruh dunia karena Islam merupakan Agama yang paling menjungjung tinggi Kesetaraan. Tidak membeda-bedakan Suku, Ras, Etnik dan Gender. Tetapi di kalangan umat Islam sendiri kenapa masih ada orang-orang yang menganggap dirinya jauh lebih hebat???…

Merasa dirinya lebih cakep, lebih kaya, lebih pintar, lebih terhormat, menganggap sukunya yang paling Oke!, bahkan yang paling parah merasa dirinya yang paling benar!. Padahal Rosulullah bersabda:

“ Allah tidak akan melihat penampilan dan kekayaan kamu, akan tetapi kepada hati dan amalmu” (HR Ibnu Majah)

Ayat inilah yang digunakan Rasulullah untuk menghapuskan fanatisme jahiliyah dan diskriminasi.

Dalam khutbah fathu Makkah, sebelum menyampaikan Surat Al Hujurat ayat 13 ini beliau bersabda:

“Hai manusia, sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian keaiban masa jahiliyah dan tradisinya yang selalu membangga-banggakan orang tua. Manusia itu hanya ada dua macam; yakni yang berbakti, bertaqwa lagi mulia di sisi Allah; dan orang yang durhaka, celaka lagi hina di sisi Allah.” (HR. Tirmidzi; shahih)

Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari Adam dan Hawa. Maka kenapa kamun saling olok mengolok sesama kamu. Sebagian kamu mengejek sebagin yang lain, padahal kalian bersaudara dalam nasab dan sangat mengherankan bila saling mencela sesama saudara atau saling mengejek, atau panggil- memanggil denagn gelar-gelar yang jelek.

2)  Point kedua “Prinsip dasar hubungan manusia”

Poin kedua dari Surat Al Hujurat ayat 13, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan prinsip dasar hubungan manusia.

“dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”

kita hidup dunia bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk berkenalan. Inilah prinsip dasar hubungan manusia. Bahwa sudah sunnatullah manusia itu beragam. Karena mereka dijadikan Allah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Dengan keragaman itu, Allah menghendaki agar manusia saling mengenal. Semakin dekat pengenalan kepada selainnya, semakin terbuka peluang kerja sama dan saling memberi manfaat.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainya

Manusia pada dasarnya membutuhkan manusia yang lain ( hablumminannas ). Seperti terciptanya manusia pertama Yaitu Nabi Adam, ketika di ciptakan sendirian tidak ada yang menemani, Nabi Adam pun merasa kesepian walaupun di surga sudah tersedia semua kebutuhannya, pada akhirnya beliaupun meminta kepada Allah untuk di ciptakan seseorang untuk menemani hidupnya. Setelah di ciptakan Hawa maka Nabi Adam pun merasa tidak lagi kesepian. Adam butuh berinterkasi dengan sesorang ( Hawa ). Oleh karena itu manusia itu butuh orang lain untuk berkembang menjadi manusia yang utuh. Ketika kita hidup tidak bersosialisai maka hidup ini tidak akan berarti. Kita akan merasa bahagia ketika hidup kita bermanfaat buat orang lain.

SubhanAllah…

Alangkah indah dan damainya dunia ini apabila kita bisa menjalankan perintah Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 13. Kita semua saudara, apabila saudara yang lain sakit kita pun ikut merasakan sakit. Ketika saudara kita yang lain senang, kitapun ikut senang, bukannya iri dan dengki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pelajarilah nasab-nasab kalian untuk mempererat silaturahim, karena silaturahim itu menanamkan rasa cinta kepada kekeluargaan, memperbanyak harta dan memperpanjang usia.” (HR. Tirmidzi; shahih)

3)  Point ke tigaKemuliaan berbanding lurus dengan taqwa”

Poin ketiga dari Surat Al Hujurat ayat 13, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh kataqwaan mereka.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.

Kata akramakum (مكمركأ) berasal dari kata karuma (مرك) yakni yang baik dan istimewa sesuai obyeknya.

Ayat ini menegaskan bahwa manusia yang beragam itu sesungguhnya setara di hadapan Allah. Yang membedakan mereka adalah ketaqwaannya. Kemuliaan manusia di sisi Allah berbanding lurus dengan level ketaqwaan mereka.

4) Point ke empatAllah Maha Mengetahui”

Poin keempat dari Surat Al Hujurat ayat 13, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Dia adalah ‘alimun khabiir.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sifat ‘aliim (ميلع) dan khabir (ريبخ) keduanya menunjukkan kemahatahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Alim menggambarkan pengetahuan-Nya menyangkut segala sesuatu. Sedangkan Khabir menggambarkan pengetahuan-Nya yang menjangkau sesuatu. ‘Alim penekanannya pada Dzat Allah yang Maha Mengetahui. Khabir penenakannya pada sesuatu yang diketahui itu.

Kesimpulannya : Ayat ini mengajarkan kita akan kesetaraan, toleransi, Kerjasama,bersosialisai serta menghapus diskriminasi.

Kita berasal dari keturunan yang sama yaitu nabi Adam dan Hawa. Maka janganlah merasa tinggi atau merasa paling istimewa. Kita semua itu sama, setara dan sederajat. Seluruh manusia setara di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang membedakan adalah ketaqwaannya. Manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.

Keragaman adalah sunnatullah

Keragaman bukan menjadi alasan kita untuk berpecah belah atau saling bermusuhan, keragaman merupakan alat untuk kita saling mengenal. Dengan pengenalan yang baik, akan terjalin kedekatan, kerja sama dan saling memberikan manfaat. Bersosialisai yang baik agar hidup jauh lebih berarti.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lainya!

Demikian point – point yang dapat kita ambil pelajaran, semoga bermanfaat buat kita semua… Aaamiiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *