Karya Guru, Karya Tulis

MELIHAT DARI MATA YANG LAIN

Apa yang kita lakukan ketika bayi menangis, memuntahkan makanan, atau sebentar-bentar mengompol? Apakah kita marah? Kita bisa memakluminya bukan. Namun bila kelakukan yang sama persis terjadi pada anak dengan usia tujuh tahun, sulit untuk kita memahaminya.

Bila kejadian ini terjadi berulang-ulang tanpa dapat dihentikan, menjadi frustasi, ini membuktikan kalau sebuah kejadian tidak pernah membuat kita marah, sedih, jengkel atau lainnya, yang membuat emosi kita tersulut adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita. Pada seorang bayi kita tidak meletakkan syarat apapun, kita mencintainya dengan setulus hati kita. Dalam artian, apapun yang dilakukan bayi, kita tetap mencintainya. Adanya syarat yang kita buat atau dari standar pandangan umum yang kita terima, ini yang membuat emosi kita terayun. “Orang yang menyulitkan” hadir dalam keseharian agar kita belajar agar kita mencintai tanpa syarat, mirip seperti orang tua yang mencintai bayinya.

Selain melihat dengan mata penuh cinta, kita diminta juga untuk melihat dari mata seorang guru, seperti guru-guru di kelas sewaktu kita Sekolah Dasar (SD) sampai sekarangpun kita ingat siapa nama dan apa kebiasaannya. Sewaktu baru masuk SD, tambah-tambahan, menulis dan mengeja serta hal lain yang kita lakukan pastinya jauh dari kemampuan kita sekarang. Namun guru mengerti, memahami dan mencintai kita, dengan sabar guru-guru kita membimbing, karena mereka tahu bahwa bukannya anak muridnya yang tidak bisa, tapi mereka masih dalam proses pertumbuhan dan belajar.

Mata lain yang sangat ampuh untuk digunakan adalah mata yang berlawanan dengan mata yang telah disebutkan tadi. Kalau tadi kita memposisikan seorang guru, sekarang kita berposisi sebagai murid dan orang yang kita anggap yang paling menyebalkan adalah guru kita. Dengan mata ini kita akan melihat bahwa mereka muncul untuk mengajarkan kita bersabar, orang yang cerewet dan lisannya yang tajam hadir untuk memberi tahu cara mendengar dan berkata-kata yang baik.

Anehnya, kita tidak pernah menyampaikan terima kasih pada mereka. Padahal mereka mau berkorban demi kita. Mereka mau menanggung dosa dari perbuatan yang dilakukan untuk membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa?

Bukan materi yang berlimpah ruah, namun hati yang kayalah yang dapat ikhlas membantu orang lain”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *