Karya Guru, Karya Tulis

Kurangnya Minat Baca Pada Anak

Pendidikan adalah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan diri agar mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka dan kreatif tanpa harus kehilangan identitas diri. Upaya untuk mengembangkan diri atau semua potensi yang dimiliki harus dikembangkan tanpa melanggar norma-norma yang berlaku.

Secara umum, banyak faktor yang memengaruhi prestasi belajar dan minat baca pada anak. Diantaranya, faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang memengaruhi seperti tonus jasmani, mata, telinga, perilaku, minat dan motivasi. Kemudian, faktor eksternal yaitu orang tua, lingkungan keluarga, guru, masyarakat, teman, rumah, sekolah, dan peralatan.

Terfokus pada faktor eksternal yang diduga memengaruhi minat baca anak yaitu pola asuh orang tua. Pendidikan anak dan kepribadiannya pertama kali dibentuk dalam lingkungan keluarga. Kedua orang tua sudah memberikan pendidikan dalam keluarga melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari kepada anak sejak kecil. Cara orang tua mendidik anaknya dalam kehidupan sehari-hari tentu akan memengaruhi tingkah laku anak. Harus disadari bahwa anak sering melakukan dan meniru kebiasaan hidup orang tua, karena memang pada masa perkembangannya anak selalu ingin meniru apa yang dilakukan oleh orang tua.

Pernyataan Webster’s dalam Ani Siti Anisah (Vol. 05, No.01:70-84.2011 jurnal pendidikan) dapat dipahami bahwa istilah pola asuh dalam bahasa Inggris diartikan dengan parenting. Asuh berarti perubahan ekpresi yang melekat pada diri individu dipengaruhi oleh potensi genetik. Orang tua juga memengaruhi tingkah laku anak melalui pola asuh yang diberikan. Interaksi dalam keluarga, dan pola asuh yang diberikan orang tua berperan dalam menanamkan dan memberitahukan kepada anak-anaknya tentang nilai, norma yang harus dimengerti, dipahami, bahkan ditaati oleh anak.

Faktor internal yang memengaruhi prestasi belajar anak yaitu minat baca. Minat adalah kebiasaan atau keinginan yang besar terhadap suatu hal. Minat baca dapat menjadi kegemaran dalam membaca. Pada dasarnya, kegemaran membaca itu harus dididik, ditanamkan kepada orang-orang sejak kecil, sejak mereka dari taman kanak-kanak, sekolah dasar sampai sekolah lanjutan dan seterusnya.

Namun demikian, kenyataan yang tampak di dalam keluarga adalah banyak orang tua yang lepas dari tanggungjawabnya dalam mendidik anak-anaknya. Buktinya, setelah mengamati banyak orang tua yang beranggapan ketika mengantarkan anak ke pintu pagar sekolah, maka tanggungjawab mereka sudah selesai. Orang tua hanya beranggapan bahwa ketika anak berada di sekolah adalah tanggung jawab guru. Padahal, tanggungjawab yang paling besar terdapat pada keluarga. Berdasarkan hasil pengamatan dari salah satu anak yang mempunyai orang tua berprofesi keduanya bekerja di luar rumah, jarang menanyakan tentang pelajaran dan apa kegiatan yang mereka kerjakan di sekolah.

Serta, berdasarkan pengamatan terhadap salah satu orang tua, menanyakan apa kiat yang mereka berikan kepada anak agar anak terbiasa membaca. Mereka menjawab bahwa tidak adanya reaksi yang ditunjukkan kepada anak agar mempunyai kebiasaan membaca, seperti ketika orang tua membaca buku di depan anak dan mendiskusikan cerita atau berita. Mereka hanya beranggapan bahwa memberikan kebiasaan membaca kepada anak hanyalah di waktu anak masih duduk di sekolah dasar. Tetapi anggapan itu tidak benar, karena sesungguhnya memberikan kebiasaan membaca tidak akan ada batasnya. Keadaan yang seperti ini membuktikan bahwa selama ini terdapat kesalahan terhadap pola asuh yang ada dan kurangnya minat baca sangat berpengaruh besar dalam proses belajar di sekolah. Sehingga, ketika anak bermasalah dengan hasil belajar maka sasaran kesalahan mereka satu-satunya adalah guru.

“Salam Literasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *