BINGUNG MAU NULIS APA.
Karena saya bukan penulis tulen, ketika diminta nulis ya pasti Bingung Mau Nulis Apa. Merenung sana-sana, baca ini, baca itu, tetep saja masih Bingung Mau Nulis Apa. Jika saya diminta menyampaikan secara lisan apa yang saya baca, mungkin tanpa persipan juga bisa langsung on the spot, saat itu juga saya bisa menyampaiakan. Nah tapi ini diminta nulis, Lagi-lagi ya Bingung Mau Nulis Apa.
Dalam Al-Quran saja perintah pertama yang Allah turunkan adalah membaca (Iqra). Makanya ketika diminta menulis jadi Bingung Mau Nulis Apa. Menulis itu memang berbeda dengan membaca. Menulis itu satu level diatas membaca. Karena perlu memikirkan tema, diksi yang tepat, alur, belum ini dan itu.. ya makanya kalo diminta nulis ya Bingung Mau Nulis Apa.
Belum kekhawatiran bagaimana jika tulisan saya dibaca orang, terus orang gak suka, terus dia nulis komentar berupa kritik, kan malu. Makanya Bingung Mau nulis Apa. Disamping bingung dengan memilih tema, kadang di bingungkan juga dengan harus ada data lah, referensi bacaan penulis ini, penulis itu, bahkan ada yang bulang jika tulisanmu terlihat keren harus mengutip penulis terkenal (pendapat orang sih) nah hal-hal sperti itu yang membuat saya Bingung Mau Nulis Apa.
Jika diminta membaca buku sih sanggup-sanggup aja, tapi ini diminta menulis, harus punya kemampuan tata bahasa yang baik, penguasaan EYD yang baik juga, nah bahkan sekarang EYD udah diganti dengan Puebi (apalagi kan?) hal-hal seperti inilah yang membuat Bingung Mau Nulis Apa.
IQRA..! Nah perintah Allah membaca kan bukan menulis. Eh tapi pas buka ayat lainnya ternyata ada ayat Al-Quran yang memerintahkan untuk menulis. Tepatnya ada di surat Al-Baqarah ayat 282 intinya gini ya, karena panjang bangat tuh ayat, satu halaman sendiri
“Hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya.”
Menurut Sirah Nabawiyah, salah satu tindakan yang awal-awal dilakukan oleh Rasulullah saat tiba di Madinah adalah menulis, walaupun saat itu yang beliau minta ditulis adalah tentang peraturan warga.
Langsung teringat perkataan Imam Syaf’fi
“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”
Dan jika dingat-ingat sebenarnya dari sekolah SD juga kitasudah terbiasa menulis, kalaupun itu hanya menulis atau menyalin pelajaran. Mungkin itu merupakan salah satu cara agar pelajaran yang disampaikan bisa diulang-ulang lagi.
Seorang teman yang sudah bisa menulis buku bilang, “tulis saja apa yang ingin kamu tulis, masalah EYD lah puebi lah, alur lah, tema lah nomor sekian itumah, seiring berjalan akan bertambah kemampuan kita”. Menulis itu seperti pisau harus diasah. Dan perlu diingat bahwa kita mengenal para tokoh-tokoh besar dengan tulisan Ibnu Khaldun dengan karya Muqadimahnya yang fenomenal, yang kata Mark Zuckerberg bahwa buku itu adalah salah satu buku yang menginpirasinya. Ada lagi J.K Rowling dengan karyanya Harry Potter, yang merupakan salah satu buku paling laris di dunia. Nah itulah salah satu efek samping dari menulis. Kita mengenal Hamka, Chairil Anwar, Tere liye , Kang Abik sampai mungkin Asma Nadia adalah dari karya tulisnya.
Menulis itu untuk mengabadikan, bahkan salah satu tujuan Pembukuan Al-Quran adalah adalah selain dikarenakn banyak para penghafal Al-Qur’an yang sahid juga sebagai salah satu cara untuk menjaga Al-Quran agar senantiasa bisa dibaca oleh umat islam. Kalaupun Allah menjanjikan bahwa Allah sendirilah yang akan menjaganya. Seperti dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” Al-Hijr ayat 9.
Jika ingin dikena orang lain tinggalkanlah jejak, salah satu cara meninggalkan jejak adalah menulislah, apalagi menulis kebaikan walaupun saya masih Bingung Mau Nulis Apa.